Selain A’Famosa, Bukit St. Paul dan Gereja St. Paul juga merupakan dua landmark bersejarah paling terkenal di Melaka. Keduanya dibangun pada masa penjajahan Portugis dan pernah menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Kristen di kota bersejarah tersebut. Hingga kini, kawasan ini tetap menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi pencinta sejarah maupun arsitektur kolonial.

Bukit St. Paul

Berlokasi tidak jauh dari Dutch Square, Bukit St. Paul hanya berjarak sekitar empat hingga lima menit berjalan kaki. Untuk mencapai puncaknya, pengunjung akan menaiki deretan anak tangga berwarna putih yang membelah lereng bukit. Meski jalurnya sedikit menanjak, perjalanan menuju puncak terasa menyenangkan berkat suasana yang rindang dan penuh nuansa sejarah.
Sepanjang perjalanan, pengunjung dapat menikmati panorama Kota Melaka dari berbagai sudut sekaligus menemukan sejumlah makam tua peninggalan Belanda yang tersebar di sekitar bukit. Pemandangan dari atas bukit menghadirkan perpaduan antara bangunan bersejarah, kawasan kota tua, dan Selat Melaka yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan maupun fotografer.
Fakta menarik: Pada masa penjajahan Portugis, Bukit St. Paul dikenal dengan nama Monti Ali Maria atau Monty Hill.
Gereja St. Paul

Sesampainya di puncak bukit, pengunjung akan disambut oleh reruntuhan Gereja St. Paul yang telah berdiri selama lebih dari 500 tahun. Awalnya, bangunan ini merupakan sebuah kapel yang dikenal sebagai Chapel of Mother of God atau Lady of the Hill, sebelum berkembang menjadi salah satu gereja paling penting pada masa kolonial Portugis.




Gereja ini dibangun pada tahun 1521 oleh kapten Portugis Duarte Coelho dan semula digunakan sebagai tempat ibadah umat Katolik. Namun, setelah Melaka berada di bawah kekuasaan Belanda, fungsi gereja sebagai tempat ibadah berakhir karena pembangunan Christ Church, sehingga bangunan ini kemudian ditinggalkan.
Saat ini, Gereja St. Paul dikenal sebagai gereja Katolik tertua di Malaysia sekaligus salah satu situs warisan sejarah paling penting di Asia Tenggara. Di bagian depan gereja berdiri patung Santo Fransiskus Xaverius yang menjadi simbol kuat hubungan gereja ini dengan sejarah penyebaran agama Katolik di kawasan Asia.
Memasuki area gereja, pengunjung akan menemukan sisa-sisa dinding batu, jendela tanpa kaca, serta berbagai artefak bersejarah yang masih terawat hingga kini. Suasana reruntuhan yang berpadu dengan arsitektur kolonial menciptakan daya tarik tersendiri dan menjadikan tempat ini salah satu lokasi fotografi paling ikonik di Melaka.
Di dalam kompleks gereja juga terdapat makam terbuka Santo Fransiskus Xaverius. Jenazah beliau sempat dimakamkan di gereja ini sebelum kemudian dipindahkan ke Goa, India. Kini, makam tersebut dilindungi pagar besi sehingga pengunjung masih dapat melihat bagian dalamnya dari dekat.
Selain itu, dinding-dinding gereja juga dihiasi batu nisan kuno peninggalan Belanda yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Melaka dari masa Portugis hingga Belanda. Perpaduan nilai sejarah, arsitektur kolonial, dan panorama Kota Melaka dari puncak bukit menjadikan Bukit St. Paul dan Gereja St. Paul sebagai destinasi yang wajib dikunjungi saat menjelajahi kota warisan dunia ini.
Cara menuju Bukit St. Paul & Gereja St. Paul
Jika Anda berada di Jonker Street, Bukit St. Paul hanya berjarak sekitar empat menit berjalan kaki. Sementara itu, bagi wisatawan yang berada di kawasan lain di Melaka, layanan transportasi daring seperti Grab menjadi pilihan paling praktis. Alternatif lainnya adalah menggunakan layanan sewa mobil yang tersedia di berbagai titik di kota.
Bagi yang ingin menggunakan transportasi umum, Panorama Melaka menyediakan jaringan bus yang menghubungkan berbagai destinasi wisata utama di Melaka. Anda dapat menaiki Bus Panorama Melaka rute 17 dari Melaka Sentral menuju Banda Hilir, kemudian melanjutkan perjalanan singkat dengan berjalan kaki menuju Bukit St. Paul.



